Sunday, February 10, 2019

BLOG 2 PENILAIAN KETERAMPILAN DASAR LABORATORIUM KIMIA


PENILAIAN KETERAMPILAN DASAR LABORATORIUM KIMIA
Penilaian kinerja (performance assessment) secara sederhana dapat dinyatakan sebagai penilaian terhadap kemampuan dan sikap siswa yang ditunjukkan melalui suatu perbuatan. Menurut para ahli penilaian kinerja merupakan penilaian terhadap perolehan, penerapan pengetahuan dan keterampilan yang menunjukkan kemampuan siswa dalam proses maupun produk. Penilaian tersebut mengacu pada standar tertentu.
           Standar diperlukan dalam penilaian kinerja untuk mengidentifikasi secara jelas apa yang seharusnya siswa ketahui dan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan. Standar tersebut dikenal dengan istilah rubrik. Rubrik dapat dinyatakan sebagai panduan pemberian skor yang menunjukkan sejumlah kriteria performance pada proses atau hasil yang diharapkan. Rubrik terdiri atas gradasi mutu kinerja siswa mulai dari kinerja yang paling buruk hingga kinerja yang paling baik disertai dengan skor untuk setiap gradasi mutu tersebut. Dengan mengacu pada rubrik inilah guru memberikan nilai terhadap kinerja siswa.
              Penilaian kinerja dapat menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa terdapat perbedaan antara “mengetahui bagaimana melakukan sesuatu”‘ dengan mampu secara nyata melakukan hal tersebut”. Seorang siswa yang mengetahui cara menggunakan mikroskop, belum tentu dapat mengoperasikan mikroskop tersebut dengan baik. Tujuan sekolah pada hakekatnya adalah membekali siswa dengan kemampuan nyata (the real world situation). Dengan demikian penilaian kinerja sangat penting artinya untuk memantau ketercapaian tujuan tersebut.
                 Penilaian kinerja dapat menliai proses dan produk pembelajaran. Pada pembelajaran kimia, penilaian kinerja lebih menekankan proses apabila dibandingkan dengan hasil. Penilaian proses secara langsung tentu lebih baik karena dapat memantau kemampuan siswa secara otentik. Namun seringkali penilaian proses secara langsung tersebut tidak dimungkinkan karena pengerjaan tugas siswa memerlukan waktu lama sehingga siswa harus mengerjakannya di luar jam pelajaran sekolah. Untuk mengatasi hal tersebut, penilaian terhadap proses dan usaha siswa dapat dilakukan terhadap produk. Misalnya untuk menilai kemampuan siswa membuat koloid maka guru kimia dapat melihat hasil produk koloid siswa. Melalui produk tersebut dapat dilihat kemampuan siswa dalam melakukan tahapan pembuatan koloid dan usahanya. Usaha dan kemajuan belajar mendapatkan penghargaan dalam penilaian kinerja. Hal tersebut menyebabkan penilaian kinerja memiliki keunggulan untuk pembelajaran kimia bila dibandingkan dengan tes tradisional yang berorientasi pada pencapaian hasil belajar.
Ada 7 kriteria Untuk mengevaluasi apakah penilaian kinerja (Performance Assessment) berkualitas atau tidak.
1. Generability: apakah kinerja siswa dalam melakukan tugas yang diberikan sudah memadai untuk digeneralisasikan kepada tugas lain.
2. Authenticity: apakah tugas yg diberikan sudah serupa dengan apa yang sering dihadapi dalam praktek kehidupan sehari-hari
3. Multiple foci: apakah tugas yg diberikan kepada siswa sudah mengukur lebih dari satu kemampuan yang diinginkan
4. Teachability: tugas yg diberikan merupakan tugas yg hasilnya makin baik karena adanya usaha mengajar guru di kelas?
5. Fairness: apakah tugas yg diberikan sudah adil untuk semua siswa.
6. Feasibility: apakah tugas yg diberikan relevan utk dapat dilaksanakan (faktor biaya, tempat, waktu atau alat)
7. Scorability: apakah tugas yg diberikan dapat diskor dengan akurat dan reliable ?
Penilaian kinerja dapat menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa terdapat perbedaan antara “mengetahui bagaimana melakukan sesuatu”‘ dengan mampu secara nyata melakukan hal tersebut”. Seorang siswa yang mengetahui cara menggunakan mikroskop, belum tentu dapat mengoperasikan mikroskop tersebut dengan baik. Tujuan sekolah pada hakekatnya adalah membekali siswa dengan kemampuan nyata (the real world situation). Dengan demikian penilaian kinerja sangat penting artinya untuk memantau ketercapaian tujuan tersebut.
1.        Penilaian Sikap

Objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran berbagai mata pelajaran adalah:
  • Sikap terhadap subjek
  • Sikap positif terhadap belajar
  • Sikap positif terhadap diri
  • Sikap terhadap seseorang yang berbeda

Teknik penilaian sikap dapat berupa: observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi. Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta.

2. Penilaian Proyek
Penilaian proyek adalah penilaian terhadap suatu tugas (suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data) yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan dalam bidang tertentu, kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam penyelidikan tertentu, dan kemampuan siswa dalam menginformasikan subyek tertentu secara jelas

Penilaian cara ini dapat dilakukan terhadap perencanaan, proses selama pengerjaan tugas, dan hasil akhir proyek. Dalam penilaian ini guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan disain, pengumpulan data, analisis data, kemudian menyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitiannya juga dapat disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian ini dapat menggunakan alat/instrumen penilaian berupa daftar cek (checklist) ataupun skala rentang (rating scale)

3. Penilaian Portofolio
Penilaian Portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dalam satu periode tertentu. Portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar siswa melalui karya siswa.

Dalam mengembangkan penilaian portofolio, guru perlu melakukan hal-hal berikut.
  • Menjelaskan maksud penggunaan portofolio.
  • Menentukan bersama siswa sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat.
  • Mengumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap siswa dalam satu map/folder/wadah.
  • Memberi tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan siswa sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu
  • Menentukan kriteria penilaian sampel-sampel portofolio siswa beserta pembobotannya bersama para siswa agar dicapai kesepakatan
  • Meminta siswa menilai karyanya secara berkesinambungan
  • Setelah suatu karya dinilai dan ternyata nilainya belum memuaskan, memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki lagi
  • Bila perlu, menjadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio.

4. Penilaian Diri
Teknik penilaian diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian, yang berkaitan dengan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam menerapkan penilaian diri ini, guru perlu melakukan hal-hal berikut.

  • Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai
  • Menentukan kriteria penilaian yang akan digunakan
  • Merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala rentang
  • Meminta siswa untuk melakukan penilaian diri
  • Mendorong siswa supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif

Beberapa pedoman untuk memeriksa kualitas perangkat penilaian kinerja dapat dikemukakan sebagai berikut: 1) esensial dan valid (dihubungkan dengan standar dan tujuan utama kurikulum); 2) otentik (problem dan proses mendekati atau sesuai dunia nyata); 3) Integratif (menuntut integrasi pengetahuan, konsep, sikap dan kebiasaan berpikir). 4.) pengukuran bersifat open ended (merangsang munculnya pertanyaan‑pertanyaan sepanjang pengerjaan tugas); 5) problem menarik bagi siswa dan memerlukan ketekunan; 6) mendorong siswa menjadi pemikir yang divergen dan bijaksana; 7).feasible (aktivitas aman bagi siswa dan dapat dikerjakan); 8) penilaian mengikuti keragaman gaya belajar siswa; 9) penggunaan kelompok kerja dapat merangsang proses berpikir individual; 10) akuntabilitas individual (meskipun digunakan kelompok kerja, kinerja individual harus mudah diobservasi); 11) terdapat sejumlah definisi (bila diperlukan) dan petunjuk yang jelas, 12) pengalaman siswa menjadi umpan balik untuk siklus perbaikan; 13) siswa memiliki beberapa format pilihan cara untuk mempresentasikan produk akhir, 14) kriteria kualitas jelas bagi siswa sejak awal kegiatan; 15) panduan penskoran harus mudah digunakan.
Langkah‑langkah utama yang perlu ditempuh ketika menyusun penilaian kinerja yaitu: 1) menentukan indikator kinerja yang akan dicapai siswa; 2) memilih fokus asesmen (menilai proses/prosedur, produk, atau keduanya), 3) memilih tingkatan realisme yang sesuai (menentukan seberapa besar tingkat keterkaitannya dengan kehidupan nyata); 4) memilih metode observasi, pencatatan dan penskoran; 5) mengujicoba task dan rubrik pada pembelajaran; serta 6) memperbaiki task dan rubrik berdasarkan hasil ujicoba untuk digunakan pada pembelajaran berikutnya.
Penilaian kinerja dapat menilai pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Penilaian kinerja memungkinkan siswa menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa terdapat perbedaan antara “mengetahui bagaimana melakukan sesuatu”‘ dengan mampu secara nyata melakukan hal tersebut”. Seorang siswa yang mengetahui cara menggunakan mikroskop, belum tentu dapat mengoperasikan mikroskop tersebut dengan baik. Tujuan sekolah pada hakekatnya adalah membekali siswa dengan kemampuan nyata (the real world situation). Dengan demikian penilaian kinerja sangat penting artinya untuk memantau ketercapaian tujuan tersebut.
Terdapat 5 aspek yang dinilai, yaitu:
1. Teknik dasar kerja laboratorium
Berupa penggunaan alat, pemahaman sifat zat, pencucian dan pembuatan larutan, penanganan limbah, pemeliharaan alat dan bahan. Dapat dinilai dengan cara observasi menggunakan skala beda semantik, contoh:
sangat kompeten                        tidak kompeten
3          2          1         0        -1         -2          -3
2. Perhitungan
Dari data pengamatan dan laporan yang dikerjakan. Penilaian menggunakan skala sebagai berikut:
teliti                                                  tidak teliti
3          2          1         0        -1         -2          -3
3. Intrepretasi data
Data yang diperoleh harus akurat dan reliabilitas, oleh karena itu untuk memperolehnya dapat menggunakan berbagai alat ukur. contoh pada penentuan sifat asam basa suatu zat dapat diuji dengan berbagai alat uji, misal indikator alami, kertas lakmus, indikator universal, pH meter. Penilaian dengan menggunakan skala sebagai berikut:
lengkap                                       tidak lengkap
3          2          1         0        -1         -2          -3
4. Perakitan Alat
Dalam melakukan praktikum, siswa harus mampu merakit alat percobaan sehingga dapat digunakan dalam praktikum. Penilaian menggunakan skala sebagai berikut:
tepat                                                 tidak tepat
3          2          1         0        -1         -2          -3
5. Referensi Ilmiah
Setelah melakukan praktikum dan memperoleh data pengamatan, hasil percobaan dibahas dan dihubungkan dengan konsep yang mendukung data pengamatan. Diperlukan  beberapa referensi ilmiah dalam mengerjakan laporan praktikum. Penilaian menggunakan skala sebagai berikut:
relevan                                          tidak relevan
3          2          1         0        -1         -2          -3
Berdasarkan uraian diatas bagaimana guru menilai kinerja siswa yang lebih ojektif dan kondusif  dalam satu kelas saat melakukan praktikum atau kegiatan dilaboratorium karena kita tau banyaknya individu2 yang berbeda dalam satu waktu sekaligus?
Apakah dari semua metode penilaian kinerja ini harus digunakan semuanya atau hanya digunakan saat apa yang kita butuh dan apa yang harus dinilai?

Monday, January 28, 2019

BLOG 1 DESAIN PENILAIAN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA


DESAIN PENILAIAN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Kurikulum 2013 menitikberatkan pada kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga komponen tersebut secara eksplisit dinyatakan dalam kompetensi inti yang harus dimiliki siswa. Kurikulum 2013 juga mengatur kegiatan pembelajaran yang mengutamakan pendekatan scientific (ilmiah) yaitu mengamati, menanya, melatih, mencoba, menalar, dan meng-komunikasikan. Perubahan yang mendasar itu juga berdampak pada sistem penilaian yang lebih mengarah ke penilaian otentik.

Dalam Permendikbud Nomor 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Berdasarkan Permendikbud tersebut dijelaskan, bahwa penilaian terdiri atas: tes tulis, tes lisan, praktek dan kinerja (unjuk kerja/ performance), observasi selama kegiatan pembelajaran dan di luar pembelajaran, serta penugasan (terstruktur dan tugas mandiri tak terstruktur). Penilaian otentik sebagai bentuk penilaian yang mencerminkan hasil belajar sesungguhnya, dapat menggunakan berbagai cara atau bentuk. Kunandar menyatakan, bahwa penilaian otentik antara lain melalui penilaian proyek atau kegiatan siswa, penggunaan portofolio, jurnal, demonstrasi, laporan tertulis, ceklis dan petunjuk observasi. Tujuan penilaian otentik adalah untuk mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata, di mana keterampilan-keterampilan tersebut digunakan. Penilaian otentik juga dapat digunakan untuk menjamin informasi yang sebenar-benarnya tentang kemampuan atau kompetensi peserta didik.

1. Pengertian Penilaian Otentik
Penilaian otentik adalah melaksanakan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai macam cara yang berhubungan dengan tugas guru yakni menilai sejauhmana keberhasilan pembelajaran. "Newman dan Wehlage dalam Peter Rennert-Ariev dan Loyola College mengatakan, bahwa “who claim that assesments help studens create discourse, products, and performance, that have value or meaning beyond success in school”.Penilaian otentik dapat membantu peserta didik membuat wacana, produk, dan pertunjukan yang memiliki nilai atau makna melampui kesuksesan di sekolah.
2. Prinsip-prinsip Penilaian Otentik
Sebagai bagian dari kurikulum 2013, penilaian otentik sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor dan komponen yang ada di dalamnya.namun disini guru mempunyai posisi yang sentral dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan dalam pembelajaran. Untuk itu penilaian otentik harus memperhatikan beberapa prinsip-prinsip diantaranya adalah: a. Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur. b. Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai. c. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender. d. Terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. e. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihakpihak yang berkepentingan. f. Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.g. Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara terencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku. h. Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. i. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
3. Model Penilaian Otentik
Banyak tugas dan kegiatan penilaian pembelajaran yang dapat dikelompokkan ke dalam penilaian otentik selama tugas tersebut sesuai dengan hakikat penilaian otentik. O'Malley dan Pierce menyebutkan beberapa model penilaian otentik, antara lain wawancara lisan, menceritakan kembali teks, menulis sampel, proyek dan pameran, eksperimen atau demonstrasi, constructed-response items, pengamatan guru, dan portofolio Sementara itu, model penilaian otentik yang disebutkan oleh Nurgiyantoro antara lain penilaian kinerja, wawancara lisan, pertanyaan terbuka, menceritakan kembali teks atau cerita, portofolio, dan proyek. Model penilaian otentik juga disebutkan oleh Kemendikbud, antara lain penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian portofolio, dan penilaian tertulis.
4. Ruang Lingkup Penilaian Otentik
Permendikbud Nomor 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah bahwa ruang lingkup dalam penilaian otentik mencakup kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.
5. Teknik dan Instrumen Penilaian Otentik
Teknik dan instrumen penilaian otentik untuk menilai kemajuan belajar siswa yang meliputi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.
Penilaian otentik dalam implementasi kurikulum 2013 mengacu kepada standar penilaian yang terdiri dari:
1        Penilaian kompetensi sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal
2        Pengetahuan melalui tes tulis, tes, lisan, dan penugasan.
3        Keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio.

a. Penilaian Kompetensi Sikap Spiritual dan Sikap Sosial
Berdasarkan Salinan Lampiran Permendikbud Nomor 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, bahwa ada beberapa cara yang yang dapat digunakan untuk menilai sikap spiritual dan sikap sosial siswa, yaitu observasi, penilaian diri, dan penilaian antar teman. Instrumen yang digunakan dalam observasi adalah lembar observasi atau jurnal. Hasil observasi dicatat dalam jurnal yang dibuat selama satu semester oleh guru kimia, guru BK, dan wali kelas Instrumen yang digunakan untuk penilaian diri berupa lembar penilaian diri yang dirumuskan secara sederhana, namun jelas dan tidak bermakna ganda, dengan bahasa lugas yang dapat dipahami peserta didik, dan menggunakan format sederhana yang mudah diisi peserta didik. Instrumen yang digunakan untuk penilaian antar teman berupa lembar penilaian antar teman menggunakan daftar cek.
b. Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Berbagai teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai karakteristik masing-masing KD. Teknik yang biasa digunakan adalah tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Instrumen tes tertulis dapat berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen tes lisan dapat berupa kuis dan tanya jawab. Instrumen penugasan dapat berupa pekerjaan rumah dan/ atau proyek yang dikerjakan secara individu atau klompok sesuai dengan karakteristik tugas.
c. Penilaian Kompetensi Keterampilan
Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik antara lain penilaian praktik/kinerja, proyek, dan portofolio. Instrumen yang digunakan berupa skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Penilaian unjuk kerja/kinerja/praktik dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu, seperti: praktikum kimia di laboratorium dan presentasi. Penilaian proyek (project based assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Dengan demikian, penilaian proyek dapat mengukur pemahaman, mengaplikasikan, penyelidikan, dan lain-lain.

Penialain produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produkproduk, teknologi, dan seni. Pengembangan produk meliputi 3 tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: (1) Tahap persiapan,, meliputi penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk; (2) Tahap pembuatan produk (proses), meliputi penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik; (3) Tahap penilaian produk, meliputi penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan, misalnya berdasarkan tampilan, fungsi, dan estetika. Penilaian produk biasanya menggunakan cara analitik atau holistik. Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan (tahap persiapan, pembuatan produk, dan penilaian produk). Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan hanya pada tahap penilaian produk. Fokus penilaian portofolio adalah kumpulan karya peserta didik secara individu atau kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu.Melalui penilaian portofolio guru Kimia akan mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik. Misalnya, hasil karya peserta didik dalam menyusun atau membuat laporan praktikum Kimia selama satu semester.Atas dasar penilaian itu, pendidik dan/atau peserta didik dapat melakukan perbaikan sesuai dengan tuntutan pembelajaran Kimia.
Adapun ciri-ciri penilaian otentik adalah sebagai berikut:
1        Penilaian harus mengukur semua aspek pembelajaran, yakni kinerja dan hasil atau produk. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus mengukur aspek kinerja (performance) dan produk atau hasil yang dikerjakan oleh peserta didik. Penilaian kinerja atau produk dipastikan bahwa kinerja atau produk tersebut merupakan cerminan dari kompetensi peserta didik secara nyata dan objektif.
2        Penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran. Artinya, dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik, guru dituntut untuk melakukan penilaian terhadap kemampuan atau kompetensi proses (kemampuan atau kompetensi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran) dan kemampuan atau kompetensi peserta didik setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
3        Penilaian menggunakan berbagai cara dan sumber. Dalam melakukan penilaian terhadap peserta didik harus menggunakan beberapa teknik penilaian (disesuaikan dengan tuntutan kompetensi) dan menggunakan berbagai sumber atau data yang bisa digunakan sebagai informasi yang menggambarkan penguasaan kompetensi peserta didik.
4        Penilaian bentuk tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian. Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi tertentu harus secara komprehensif dan tidak hanya mengandalkan hasil tes semata. Informasiinformasi lain yang mendukung pencapaian kompetensi peserta didik dapat dijadikan bahan dalam melakukan penilaian.
5        Tugas-tugas yang diberikan kepada peserta didik harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan peserta didik yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari.
6        Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian peserta didik, bukan keluasannya (kuantitas) Artinya, dalam melakukan penilaian peserta didik terhadap pencapaian kompetensi harus mengukur kedalaman terhadap pengusaan kompetensi tertentu secara objektif
Manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan penilaian otentik adalah sebagai berikut:
1          Penggunaan penilaian otentik memungkinkan dilakukannya pengukuran secara langsung terhadap kinerja pembelajar sebagai indikator capaian kompetensi yang dibelajarkan. Penilaian yang hanya mengukur capaian pengetahuan yang telah dikuasai pembelajar hanya bersifat tidak langsung. Tetapi, penilaian otentik menuntut pembelajar untuk berunjuk kerja dalam situasi yang konkret dan sekaligus bermakna yang secara otomatis juga mencerminkan penguasaan dan keterampilan keilmuannnya. Unjuk kerja tersebut bersifat langsung, langsung terkait dengan konteks situasi dunia nyata dan tampilannya juga dapat diamati langsung. Hal itu lebih mencerminkan tingkat capaian pada bidang yang dipelajari.
2          Penilaian otentik memberi kesempatan pembelajar untuk mengkonstruksikan hasil belajarnya. Penilaian haruslah tidak sekadar meminta pembelajar mengulang apa yang telah dipelajari karena hal demikian hanyalah melatih mereka menghafal dan mengingat saja yang kurang bermakna. Dengan penilaian otentik pembelajar diminta untuk mengkonstruksikan apa yang telah diperoleh ketika mereka dihadapkan pada situasi konkret. Dengan cara ini pembelajar akan menyeleksi dan menyusun jawaban berdasarkan pengetahuan yang dimiliki dan analisis situasi yang dilakukan agar jawabannya relevan dan bermakna.
3          Penilaian otentik memungkinkan terintegrasikannya kegiatan pengajaran, belajar, dan penilaian menjadi satu paket kegiatan yang terpadu. Dalam pembelajaran tradisional, juga model penilaian tradisional, antara kegiatan pengajaran dan penilaian merupakan sesuatu yang terpisah, atau sengaja dipisahkan. Namun, tidak demikian halnya dengan model penilaian otentik.
DESAIN PENILAIAN OTENTIK PEMBELAJARAN KIMIA
1.      PENILAIAN AWAL PEMBELAJARAN 

2.      PENILAIAN ASPEK PENGETAHUAN (BERPIKIR KRITIS)
Indikator berpikir kritis
No
Kelompok
Indikator
Sub indikator
1
Memberikan penjelasan sederhana
Memfokuskan pertanyaan
  • Mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan
  • Mengidentifikasi atau merumuskan kriteria untuk mempertimbangkan kemungkinan jawaban
  • Menjaga kondisi berpikir
Menganalisis argumen
  • Mengidentifikasi kesimpulan
  • Mengidentifikasi kalimat-kalimat pertanyaan
  • Mengidentifikasi kalimat-kalimat bukan pertanyaan
  • Mengidentifikasi dan menangani suatu ketidaktepatan
  • Melihat struktur dari suatu argumen
  • Membuat ringkasan
Bertanya dan menjawab pertanyaan
  • Memberikan penjelasan
sederhana
  • Menyebutkan contoh
2
Membangun keterampilan dasar
Mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak
  • Mempertimbangkan keahlian
  • Mempertimbangkan kemenarikan konflik
  • Mempertimbangkan kesesuaian sumber
  • Mempertimbangkan reputasi
  • Mempertimbangkan penggunaan prosedur yang tepat
  • Mempertimbangkan risiko untuk reputasi
  • Kemampuan untuk memberikan alasan
  • Kebiasaan berhati-hati
Mengobservasi dan mempertimbangkan laporan observasi
  • Melibatkan sedikit dugaan
  • Menggunakan waktu yang singkat antara observasi dan laporan
  • Melaporkan hasil observasi
  • Merekam hasil observasi
  • Menggunakan bukti-bukti yang benar
  • Menggunakan akses yang baik
  • Menggunakan teknologi
  • Mempertanggungjawabkan hasil observasi
3
Menyimpulkan
Mendeduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi
  • Siklus logika Euler
  • Mengkondisikan logika
  • Menyatakan tafsiran
Menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi
  • Mengemukakan hal yang umum
  • Mengemukakan kesimpulan dan hipotesis
  • mengemukakan hipotesis
  • merancang eksperimen
  • menarik kesimpulan sesuai fakta
  • menarik kesimpulan dari hasil menyelidiki
Membuat dan menentukan hasil pertimbangan
  • Membuat dan menentukan hasil pertimbangan berdasarkan latar belakang fakta-fakta
  • Membuat dan menentukan hasil pertimbangan berdasarkan akibat
  • Membuat dan menentukan hasil pertimbangan berdasarkan penerapan fakta
  • Membuat dan menentukan hasil pertimbangan keseimbangan dan masalah
4
Memberikan penjelasan lanjut
Mendefinisikan istilah danmempertimbangkan suatu definisi
  • Membuat bentuk definisi
  • Strategi membuat definisi
  • bertindak dengan memberikan penjelasan lanjut
  • mengidentifikasi dan menangani ketidakbenaran yg disengaja
  • Membuat isi definisi
Mengidentifikasi asumsi-asumsi
  • Penjelasan bukan pernyataan
  • Mengonstruksi argumen
5
Mengatur strategi dan taktik
Menentukan suatu tindakan
  • Mengungkap masalah
  • Memilih kriteria untuk mempertimbangkan solusi yang mungkin
  • Merumuskan solusi alternatif
  • Menentukan tindakan sementara
  • Mengulang kembali
  • Mengamati penerapannya
Berinteraksi dengan orang lain
  • Menggunakan argumen
  • Menggunakan strategi logika
  • Menggunakan strategi retorika
  • Menunjukkan posisi, orasi, atau tulisan

Penilaian kemampuan berpikir kritis siswa
Observer          :
Hari/Tanggal   :
Petunjuk pengisian
Berikanlah skor penilaian setiap aspek penilaian dengan cara melingkari angka berdasarkan pengamatan anda terhadap peserta didik pada materi senyawa hidrokarbon. Skor yang anda pilih didasarkan pada rubrik penilaian.
No
Nama
Aspek penilaian kemampuan berpikir kritis
Skor total
Nilai angka
Ket
1
2
3
4
5

































Keterangan:
(1)   = Memberikan penjelasan sederhana
(2)   = Membangun keterampilan dasar
(3)   = Menyimpulkan
(4)   = Memberi penjelasan lanjut
(5)   = Mengatur strategi dan taktik

Rubrik penilaian
No
Aspek
Indikator
Kategori
Skor
1.
Memberikan penjelasan sederhana
·         memfokuskan pertanyaan
·         menganalisis argumen
·         bertanya dan menjawab pertanyaan
Tiga indikator terpenuhi
3
Dua indikator terpenuhi
2
Satu indikator terpenuhi
1
2.
Membangun keterampilan dasar
·         mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak
·         mengobservasi dan mempertimbangkan laporan observasi
Dua indikator terpenuhi
2
Satu indikator terpenuhi
1
3.
Menyimpulkan
·         mendedukdi dan mempertimbangkan hasil diskusi
·         menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi
·         membuat dan menentukan hasil diskusi
Tiga indikator terpenuhi
3
Dua indikator terpenuhi
2
Satu indikator terpenuhi
1
4.
Memberi penjelasan lanjut
·         mendefinisikan istilah dan mempertimbangkan suatu definisi
·         mengidentifikasi asumsi-asumsi
Dua indikator terpenuhi
2
Satu indikator terpenuhi
1
5.
Mengatur strategi dan taktik
·         menentukan suatu tindakan
·         Berinteraksi dengan orang lain
Dua indikator terpenuhi
2
Satu indikator terpenuhi
1

3.      PENILAIAN KETERAMPILAN SISWA DALAM PRESENTASI 


4.      REKAP PENILAIAN PRESENTASI SISWA 

5.      PENILAIAN SIKAP SISWA 
Lembar Penilaian Sikap pada saat diskusi
Mata Pelajaran            :     Kimia
Kelas/Semester            :     X/1
Topik/Subtopik           :    senyawa hidrokarbon
Indikator                                :  Peserta didik menunjukkan perilaku ilmiah  disiplin, tanggung  jawab, jujur,  teliti dalam  berdiskudi
No
Nama Siswa
Kerja sama
Santun
Toleran
Responsif
Proaktif
Bijaksana
Jumlah Skor
1.
................







2.
................







...








Cara pengisian lembar penilaian sikap adalah dengan memberikan skor pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan terhadap peserta didik selama kegiatan yaitu:.
Skor 1,  jika  tidak pernah berperilaku  dalam kegiatan 
Skor 2, jika kadang-kadang  berperilaku dalam kegiatan 
Skor 3, jika  sering berperilaku  dalam kegiatan 
Skor 4, jika selalu  berperilaku  dalam kegiatan

Rentang nilai: skor ≤ 60 = cukup
61 ≤ nilai < 80 = baik
81 ≤ nilai ≤ 100 = sangat baik
Berdasarkan penjelasan diatas saya ingin bertanya kepada teman teman:
1.     Apa saja jenis penilaian autentik yang dapat digunakan dalam pembelajaran kurikulum 2013?
2.     Apakah dalam setiap proses pembelajaran dalam setiap materi harus dilakukan semua rangkaian bentuk penilaian otentik? Atau harus disesuaikan dengan pencapaian materi?